Ketiga orang terlapor yang disebut sebagai jaringan teroris oleh Nurul adalah , Saiful Bahri (73 tahun), Sudirmansyah (43 tahun) dan Isrok Tamami (36 tahun).
Akibat laporan palsu si Malin Kundang tersebut Anggota Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Mabes Polri bersama Kepolisian Resor Kota Depok dan Direktorat Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro pun langsung menangkap ayah dan kedua pamannya di rumahnya yang berada di RT5/RW5 Nomor 79, Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Jumat dinihari, 15 Januari 2015.
![]() |
| Rumah ayah nurul digrebek densus 88 |
Syaiful, Isro, dan Sudirman ditangkap polisi karena diduga ikut terlibat dalam aksi teror di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Kamis kemarin.
Sebagaimana dilansir Pojoksatu, Nurul nekat memberikan laporan pengaduan palsu ke Polda Metro Jaya lantaran tidak diberikan uang kosan dan jajan oleh sang ayah.
Apalagi, semenjak kedua orangtuanya (Sudirman dan Meli) bercerai, jatah keuangan dan perhatian kepadanya pun mulai berkurang.
Kemarahan Nurul kian memuncak setelah telepon genggam milik sang paman (Isro) yang dia pinjam pun diambil kembali. Perlakukan itu membuat perempuan bertubuh gemuk ini tega menyebut keluarganya jaringan teroris.
Ayah Nurul, Saeful mengaku terkejut dengan penangkapan atas dirinya beserta adik dan keponakannya oleh polisi bersenjata lengkap. Sebab, selama ini dirinya tidak pernah melakukan pelanggaran hukum apapun kepada seseorang.
“Saya sendiri tidak tau kalau sudah banyak polisi masuk ke rumah pakai senjata laras panjang. Mereka bilang kami semua terlibat jaringan terorisme dan kelompok pembom. Eh pas saya tahu ternyata ini laporan paslu dari anak gadis saya yang sakit hati,” ujar Saeful di Mapolresta Depok.
Amelia, yang tak lain istri Isro, mengatakan polisi berseragam Densus 88 datang sekitar pukul 04.15. Tanpa basa-basi, polisi langsung mendobrak pintu rumah mertuanya hingga rusak. Lalu semua orang yang berada didalam rumah diperintahkan untuk tiarap.
![]() |
| Suasana rumah setelah penggrebekan |
Menurut Amelia, polisi yang membawa senjata laras panjang langsung menyergap, tanpa meminta keterangan kepada keluarga terlebih dulu.
Atas kejadian ini, pihak keluarga menuntut supaya polisi bisa memperbaiki nama baik keluarganya. Hal ini lantaran warga di lingkungan rumahnya sempat heboh melihat puluhan polisi bersenjata lengkap mengacak-acak kediamannya.
Banyak pihak menilai kasus memalukan ini akibat dari kecerobohan pihak kepolisian dalam menanggapi laporan, Namun tak sedikit kalangan yang justru menghujat kelakuan Nurul yang dianggap sudah sangat kelewatan. Entahlah…. Bagaimana menurutmu?



ya kelakuan anaknya lah, menurut saya polisi bukan polisinya yang salah, mungkin itu kan karna waktu itu status kan lagi siaga 1, jadi polisi mau bertidak secepat mungkin ketika ada laporan..
ReplyDeleteUntuk Anda Yang Hobi Betting Online Hanya dengan deposit Rp.25.000,- Para gan sudah bisa betting dan dengan register di [http://goo.gl/6SXIAV]
ReplyDelete